TEKNOLOGI TELKOMUNIKASI
Di Susun Oleh :
Egistian
15101079
SEKOLAH TINGGI TEKNI TELEKOMUNIKASI
Egistian
15101079
SEKOLAH TINGGI TEKNI TELEKOMUNIKASI
PURWOKERTO
2015
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi, yang didalamnya dituntut adanya pertukaran informasi yang semakin cepat antar daerah dan ias, membuat peranan telekomunikasi menjadi sangat penting. Telekomunikasi sebagai wahana bagi pertukaran informasi akan semakin memperhatikan aspek kualitas jasa dari informasi tersebut . Selain itu perkembangan di bidang dunia informasi saat ini begitu cepat, baik dilihat dari isi maupun teknologi yang digunakan untuk menyampaikan informasi
Masyarakat dunia informasi menyadari hal tersebut sehingga mereka berupaya keras menciptakan infrastruktur yang mampu menyalurkan informasi secara cepat, artinya mereka sangat membutuhkan jaringan telekomunikasi yang memiliki kualifikasi sebagai information superhighway.
Dan semakin lama arus perkembangan jaringan local pun semakin pesat dan sampai saat ini jaringan local pun sering digunakan untuk berbagai keperluan,Tapi pada zaman yang sudah modern seperti sekarang ini masih banyak orang yang belum mengetahui apa itu Jaringan Local dan GSM, masih minimnya pemahaman orang mengenai jaringan local maka disusunlah makalah ini sebagai pedoman anda agar untuk memperdalam pemahaman mengenai Jaringan Local dan GSM .
1.2. Rumusan Masalah
Sebagaimana penjelasan yang terdapat pada latar belakang maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana cara kerja Jarlokaf , Jarlokar , Jarlokat ?
2. Apa saja keuntungan dan kerugian Jarlokaf , Jarlokar , Jarlokat ?
3. Apa saja bagian – bagian dari Jarlokaf , Jarlokar dan Jarlokat ?
4. Apa sejarah dari GSM ?
1.3. Tujuan
Dengan membuat karya tulis tentang SEJARAH JARINGAN LOKAL ini diharapkan sedikit banyak menambah pengetahuan siswa tentang JARINGAN LOKAL dan juga mengenai masalah-masalah yang terdapat pada rumusan masalah diatas.
1.4. Manfaat
Dengan adanya makalah ini maka dapat disimpulkan beberapa manfaat dari makalah ini yaitu :
- Menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai jaringan local akses khususnya bagi penulis pribadi dan siswa
- Agar siswa dapat mengerti apa itu Jaringan Lokal
- gar siswa bias mendalami dan mempelajari apa itu jaringan local
1.5. Metode Penulisan Data
Metode yang dipakai dalam penyajian makalah ini adalah melalui metode data sekunder yaitu metode pengumpulan data dan informasi yang diperoleh dari beberapa sumber misalnya : Koran,majalah,artikel,buku dan juga melakukan pencarian di internet .
Pada makalah ini dipakai metode penulisan data sekunder karena ada beberapa keuntungan diantaranya :
1. Mempermudah dalam memperoleh data dan informasi secara cepatNamun dapat diakui juga bahwa metode ini ada kemungkinan data serta informasi yang diperoleh tidak mencerminkan kondisi yang sedang terjadi .
2. Dapat menghemat biaya
3. Membutuhkan waktu yang relatif singkat
1.6. Batasan Masalah
Di dalam pembuatan makalah ini penulis membatasi isi dari makalah ini diantaranya, tentang :
- Pengertian jarlokat dan bagian-bagian nya
- Penjelasan jarlokaf dan bagian dari fiber optik
- Pengertian jarlokar dan sejarah gsm.
BAB II
JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA
(JARLOKAT)
2.1 Jaringan Lokal Akses TembagaJARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA
(JARLOKAT)
Jaringan lokal akses tembaga (JARLOKAT) merupakan jaringan aksesdari sentral ke pelanggan dengan menggunakan tembaga sebagai media aksesnya. Konfigurasi dasar jarlokat ditunjukkan seperti pada Gambar 2.1, dimulai dari RPU (Rangka Pembagi Utama) sampai dengan KTB (Kotak Terminal Batas) padapesawat pelanggan.
2.2 Struktur jaringan
Berdasarkan cara pencatuan saluran dari sentral ke pesawat pelanggan,jaringan kabel lokal dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu jaringan catulangsung, jaringan catu tak langsung, dan jaringan catu kombinasi.
Pada jaringan catu langsung ini, pesawat pelanggan dicatu dari KP terdekat yang langsung dihubungkan dengan RPU tanpa melalui RK seperti pada Gambar 2.2.2.2.2 Jaringan catu tak langsung
Jadi, pada jaringan ini, semua pasangan urat kabel dari KP tersambung secara tetap (permanen) ke RPU. Jaringan model ini, biasanya dipakai untuk wilayah :
- Kota kecil yang masih menggunakan sentral manual dengan jumlah pelanggan telepon sedikit .- Pada kota besar, sistem ini untuk mencatu daerah sekitar sentral telepon ( radiu sampai dengan 500 meter).
- Pada kota besar, sistem ini untuk mencatu daerah sekitar sentral telepon (radiu sampai dengan 500 meter).
- Untuk daerah terkonsentrasi yang mempunyai kebutuhan telepon cukup tinggi dan komplek yang tidak memungkinkan dipasang RK.
Jaringan catu tak langsung adalah jaringan kabel lokal dimana pesawat pelanggan dicatu dari KP terdekat yang dihubungkan terlebih dahulu ke RK, baru kemudian dihubungkan ke RPU.Dalam hal ini, RK berfungsi sebagai titik sambung antara kabel primer dan kabel sekunder. Pemakaian jaringan catu tak langsung seperti terdapat pada Gambar di bawah ini.2.2.3 Jaringan Catu Kombinasi
Keterangan :
STO : Sentral Telepon Otomat
RPU : Rangka Pembagi Utama
RK : Rumah Kabel
KP : Kotak Pembagi
Pswt : Pesawat Telepon
Pemakaian jaringan catu tak langsung ini juga dipakai pada kota-kota sedang dan besar yang digunakan untuk mencatu daerah yang pelanggannya tersebar dan jauh .Jaringan catu tak langsung juga digunakan di STO Simpanglima yaitu di daerah sekitar Simpanglima yang merupakan kawasan perkantoran.
Jaringan catu kombinasi adalah jaringan lokal di mana pesawat pelanggan dicatu melalui dua cara, yakni sebagian dengan catu langsung, dan sebagian lagi dengan catu tak langsung. Pemakaian jaringan catu kombinasi digunakan hampir pada semua kota sedang dan besar, karena letak sentral telepon biasanya di pusat kota atau pusat kepadatan penduduk, sedang lokasi pelanggan menyebar mulai dari yang dekat dengan sentral telepon, dan banyak juga yang berada jauh dari letak sentral tersebut. Pemakaian jaringan catu kombinasi seperti pada Gambar 2.4 dibawah ini.2.3 RPU (Rangka Pembagi Utama)
Keterangan :
STO : Sentral Telepon Otomat
RPU : Rangka Pembagi Utama
KP : Kotak Pembagi
RK : Rumah Kabel
Pswt : Pesawat
Merupakan suatu ruangan yang letaknya dibawah sentral telepon (untukgedung STO bertingkat) atau pada ruangan di depan/disamping ruang sentraltelepon (untuk gedung STO tidak bertingkat). Pada kantor telepon kecil (manual) biasanya berupa papan lemari perkawatan, dan pada kantor telepon sedang / besar sudah berupa kerangka besi vertikal dan horisontal (terminal blok vertikal dan terminal blok horisontal).2.3.1 Terminal Blok Vertikal
Dipasang pada RPU di sisi pelanggan, tempat diterminasikan kabel primer. Terminal blok vertikal mempunyai berbagai kapasitas :
- Terminal blok dengan kapasitas 25 pasang urat kabel.
- Terminal blok dengan kapasitas 50 pasang urat kabel.
- Terminal blok dengan kapasitas 100 pasang urat kabel.Dengan menggunakan jumper wire,terminal blok vertical dihubungkan dengan terminal blok horizontal.
2.3.2 Terminal Blok Horizontal
Terminal blok horisontal ini dipasang pada RPU disisi sentral dan mempunyai kapasitas 100 pasang urat kabel dengan jenis tekan sisip. Jenis yang digunakan adalah type K – 71.Terminal blok vertikal yang digunakan pada STO Simpanglima adalah terminal blok dengan kapasitas 100 pasang urat kabel, demikian juga dengan terminal blok horizontal sebanyak 100 pasang urat kabel.RPU berfungsi sebagai tempat penyambungan antara kabel primer dengan kabel dari sentral, dan sebagai tempat pengetesan dalam melokalisir gangguan.
Di dalam ruangan RPU terdapat peralatan yang dinamakan meja ukur yang digunakan untuk mengukur kondisi pesawat telepon pelanggan termasuk saluran (saluran luar dan saluran dalam) dan pesawat teleponnya, karena letaknya demikian, maka fungsi meja ukur adalah :
1. Mengukur kondisi saluran baik ke arah luar meupun ke arah dalam, sebagai
contoh :
- Mengukur saluran a terhadap kemungkinan adanya tegangan asing.
- Mengukur isolasi saluran a terhadap saluran b dan sebagainya.
2. Mengukur dan mengetes kondisi pesawat telepon pelanggan, sebagai contoh diantaranya untuk mengetahui mutu mikrophone dan telepon set tersebut.
2.4. RK (Rumah Kabel)
RK merupakan salah satu bagian yang penting dalam suatu jaringan kebel telepon antara sentral dengan pesawat pelanggan yang biasanya dipasang di tepi jalan, trotoar, dan pada tempat yang tidak mengganggu lalu lintas dan aman. RK terbuat dari beton ( type lama , sekarang tidak dipakai lagi ), dan ada juga yang terbuat dari besi / fiber glass. RK mempunyai fungsi sebagai tempat penyambungan antara kabel primer dengan kabel sekunder, tempat melaksanakan pengetesan untuk melokalisir gangguan, dan tempat melaksanakan penjumperan antara terminal blok disisi primer dengan terminal blok disisi sekunder. Kapasitas RK paling kecil 800 pasang, dengan arti jumlah pasangan primer dengan pasangan sekunder yang dapat diterminasikan adalah 800 pasang, sedangkan kapasitas RK paling besar 2400 pasang (dimensi RK dengan kapasita 2400 pasang sama dengan kapasitas 1600 pasang). Pada umumnya, perbandingan antara kapasitas kabel primer dan kabel sekunder adalah 2 : 3
2.5. KP / DP (Kotak Pembagi / Distribution Point)
KP merupakan unit terminal kabel tempat penyambungan antara kabel sekunder dengan kabel distribusi (penanggal) yang mempunyai fungsi sebagai tempat penyambungan antara kabel sekunder dengan kabel distribusi, dan sebagai tempat pengetesan untuk melokalisir gangguan. KP ada berbagai macam jenis, antara lain,A.Kotak Pembagi Tiang (KPT),B.Kotak Pembagi Dinding (KPD),C. Tabung Pembagi / Terminal Post (TP) yaitu :
2.5.1.Kotak Pembagi Tiang (KPT)
Mempunyai kapasitas 10 pasang yang kecil dan 20 pasang yang besar. Digunakan untuk mencatu pelanggan yang terpencar dengan menggunakan saluran penanggal.
2.5.2.Kotak Pembagi Dinding (KPD)
Dipasang pada dinding sebelah luar, biasanya digunakan untuk mencatu pertokoan/rumah yang letaknya berdampingan secara teratur. Dapat juga dipasang pada dinding sebelah dalam / biasanya digunakan untuk mencatu tiap tingkat pada gedung bertingkat/komplek industri, kampus, perkantoran. DP jenis ini mempunyai kapasitas lebih besar dibanding DP atas tiang dan biasanya kapasitas paling kecil 60 pasang dan paling besar 400 pasang.
2.5.3.Tabung Pembagi / Terminal Post (TP)
Adalah kotak pembagi yang dipasang di atas permukaan tanah/pelataran. Digunakan untuk mencatu pelanggan pada daerah permukaan yang sudah mapan seperti perumahan pada real estate. Pada STO Simpanglima menggunakan kotak pembagi tiang dengan kapasitas 10 – 20 saluran. Umumnya, dari 10 saluran, diambil 1 sebagai saluran cadangan dan dari 20 saluran diambil 2 sebagai saluran cadangan. Saluran cadangan ini berfungsi sebagai pengganti apabila dalam 1 KP tersebut ada saluran yang mengalami kerusakan atau sedang dalam perbaikan. Untuk lebih lengkapnya jumlah KP beserta kapasitasnya dapat dilihat pada lampiran.
2.6. KTB (Kotak Terminal Batas)
KTB merupakan tempat penyambungan antara kabel penanggal / distribusi dengan kabel instalasi dalam rumah (indoor cable) yang mempunyai fungsi sebagai pembatas antara IKR pada rumah pelanggan dengan saluran penanggal pada jaringan kabel., tempat terminasi awal IKR pada rumah pelanggan, tempat terminasi akhir saluran penanggal dari jaringan kabel telepon local, tempat penyambungan antara IKR pada rumah pelanggan dengan saluran penanggal dari jaringan local, dan tempat pemeriksaan ada tidaknya dial tone (nada pilih). KTB biasanya dipasang pada dinding rumah pelanggan dengan ketinggian kurang lebih 170 cm dari atas tanah.
KTB mempunyai dua bagian, yaitu Sisi Telkom dan Sisi Pelanggan.
1. Sisi Telkom.Batasan sepenuhnya tanggung jawab TELKOM terhadap kondisi instalasi kabel. Pada sisi TELKOM terdapat terminal urat kabel yang berfungsi untuk menterminasikan kabel saluran penanggal, IKR, kabel yang terhubung ke utas konektor pada sisi pelanggan, dan kabel yang terhubung ke soket pada sisi pelanggan. Sisi Telkom dilengkapi dengan pintu yang hanya dapat dibuka dengan alat khusus /dirancang dengan menggunakan segel.
2. Sisi Pelanggan adalah batasan pelanggan diijinkan memelihara, memeriksa, dan memperbaiki IKR. Dalam kondisi normal (operasi), maka penyambungan saluran palanggal dengan IKR dilakukan dengan memasukkan utas konektor ke dalam outlet pasangannya di sisi pelanggan.
2.7. IKR (Instalasi Kabel Rumah)
IKR merupakan instalasi kabel yang digunakan dalam rumah yang meliputi kabel indoor, soket, dan pesawat telepon.
a. Kabel Indoor Kabel berisolasi dan berselubung PVC dengan warna abu-abu /hitam yang berfungsi untuk menghubungkan antara KTB dengan roset pesawat telepon.
b. Soket,merupakan terminal penyambungan antara instalasi kabel dalam rumah
(indoor cable) dengan perangkat terminal (misal pesawat telepon) sehingga
memudahkan menyambung dan memutuskan hubungnan antara terminal ke
instalasi kabel rumah.
c. Pesawat telepon,merupakan media untuk berkomunikasi sebagai akhir dari jaringan kabel akses tembaga.
2.8. Jenis-jenis kabel pada Jarlokat
2.8.1 Kabel Primer
Kabel primer adalah kabel yang fungsinya menghubungkan RPU suatu sentral telepon ke RK dan DP / KP pada daerah catuan langsung seperti terdapat pada Gambar 2.8 Kabel primer mempunyai kapasitas maksimal 2400 pasang dengan diameter 0,4 mm dan 0,6 mm. Untuk STO kapasitas besar kabel primer ditanam langsung atau dipasang melalui pelanggan yang dicor beton (sistem duct).
2.8.2 Kabel Sekunder
Kabel sekunder adalah kabel yang menghubungkan RK dengan DP/KP. Kabel sekunder mempunyai kapasitas maksimal 200 pasang dengan diameter urat kabel bervariasi antara 0,4 s/d 0,8 mm seperti yang terdapat Gambar 2.9. Kabel sekunder dipasang dengan cara ditanam langsung atau atas tanah
(kabel udara).
2.8.3 Kabel Distribusi (Penanggal)
Kabel distribusi adalah kabel distribusi pelanggan (penanggal) yang fungsinya menghubungkan DP/KP ke tambatan akhir pada rumah pelanggan. Kabel yang digunakan adalah kabel penanggal. Kabel penanggal ada dua jenis, yaitu kabel dengan pengua dan tanpa penguat.
2.8.4 KTTL (Kabel Tanah Tanam Langsung)
Kabel tanah tanam langsung adalah kabel tembaga dengan kapasitas 200 pair dengan penghantar tembaga berdiameter 0,6 mm, berisolasi polyethene atau polyethene busa kulit, berisi petrojely, memakai elektris pita aluminium, berperisai pita baja, dan berselubung polyethene. Gambar 2.10 merupakan gambar kabel tanah tanam langsung.
2.8.5 Kabel Duct
Kabel duct adalah kabel tembaga yang dimasukkan dalam pipa. Kabel tembaga mempunyai kapasitas 200 pair-1600 pair dengan penghantar tembaga berdiameter 0,6 mm berisolasi polyethene busa kulit, berisi petrojely, memakai pelindung elektris pita aluminium dan berselubung polyethene. Gambar 2.11 adalah gambar kabel duct.
2.8.6 Kabel Udara
Kabel udara adalah kabel yang konstruksinya dibuat khusus untuk dipasang di atas tanah. Gambar 2.11 merupakan gambar kabel udara.
2.8.7.Indoor Cable
Kabel telepon dalam rumah (indoor cable) berisolasi dan berselubung PVC mempunyai kapasitas 2 s/d 100 pair penghantar dari tembaga lunak dengan diameter 0,6 mm. Gambar 2.12 merupakan gambar indoor cable.
Pada berbagai jenis kabel diatas, tiap-tiap kabel mempunyai beberapa lapisan. Fungsi masing-masing lapisan tersebut adalah :
a) Urat kabel dengan isolasi PE/PVC Berfungsi sebagai penghantar yang menyambungkan terminal dengansentral.
b) Isolasi Polyethyline (PE) atau Poly Vinyl Chloride (PVC) berwarna.Berfungsi sebagai pembungkus dan isolator antar penghantar. Kode warna dalam perhitungan urat kabel.
c) Pita pelilit atau pengikat kode warna Berfungsi untuk mempermudahkan perhitungan urat kabel dan mengikat kabel agar sama.
d) Pembungkus inti kabel Berfungsi untuk membalut inti kabel supaya bulat, padat, sebagai bantalan antara urat kabel dengan lapisan alminium, dan sebagai pencegah lelehnya isolasi penghantar pada saat pembuatan kulit kabel.
e) Aluminium Foil Berfungsi sebagai pelindung elektris terhadap induksi tegangan asing dari luar.
f) Kulit Dalam (Pehitam) Berfungsi sebagai pelindung kemungkinan masuknya air dan sebagai bantalan antara lapisan armouring dengan lapisan alminium.
g) Armouring BajaBerfungsi sebagai pelindung mekanis terhadap benturan benda tajam / keras dan sebagai pelindung elektris terhadap indksi tegangan asing.
h) Kulit luar kabel (PE hitam) Berfungs sebagai pelindung kemungkinan masuknya air dan sebagai bantalan pada waktu penarikan.
i) Kawat Telanjang Tembaga (Cu) Berfungsi sebagai penghubung ke tanah atau ground.
2.9 Konfigurasi Jarlokat
Infrastruktur jarlokat secara garis besar terbagi atas dua model jaringan. Pertama model jaringan primer-sekunder dan model jaringan catu langsung atau disebut dengan istilah DCL (Daerah Catuan Langsung).
a. MDF (Main Distribution Frame)
Berupa susunan rak/frame yang digunakan sebagai titik awal interkoneksi jaringan kabel antara sentral dengan jaringan kabel di luar (outside plant). Susunan rak MDF terdiri atas sisi horizontal dan vertikal. Sisi horizontal sebagai interkoneksi kabel dari sentral, sementara sisi vertikal sebagai interkoneksi menuju ke jaringan luar. Tujuan pemisahan interkoneksi ini adalah untuk kemudahan bila terjadi suatu gangguan atau kerusakan, disamping beberapa keperluan lain misalnya untuk kemudahan proses change over (pemindahan sentral layanan).
b. Cable vault/chamber
Berupa suatu ruangan di bawah MDF yang digunakan sebagai tempat meletakkan kabelkabel besar yang akan menuju ke luar. Kabel besar tersebut diatur pada rak-rak kabel agar urutan teratur dan proses pemeliharaannya menjadi tidak sulit.
c. Duct/conduit
Merupakan rute pipa yang ditanam dalam tanah sebagai tempat jalur kabel. Pipa duct juga melindungi kabel dari gangguan lingkungan dalam tanah.
d. Manhole
Manhole mempunyai bentuk semacam bak di dalam tanah sebagai tempat untuk proses penyambungan jaringan kabel dan sebagai titik pengukuran jaringan kabel bila terjadi gangguan atau kerusakan.
e. Handhole
Pada prinsipnya fungsi handhole sama dengan manhole. Hal yang membedakan adalah ukuran dari handhole lebih kecil jika dibandingkan dengan manhole. Proses penyambungan, pemeliharaan atau pengukuran jaringan pada handhole dilakukan di luar.
f. CCP (Cross Connection Point) atau RK (Rumah Kabel)
Merupakan kabinet interkoneksi jaringan kabel primer dengan jaringan kabel sekunder.
g. DP (Distribution Point)
Merupakan kotak interkoneksi antara jaringan kabel sekunder dengan kabel drop yang menuju ke rumah-rumah atau gedung. DP dapat terletak di tiang, di dinding suatu bangunan atau gedung.
h. Demarcation point atau KTB (Kotak Terminal Batas)
Merupakan titik terminasi yang digunakan untuk interkoneksi kabel drop dengan system perkabelan di dalam rumah atau dalam gedung.
2.10.Konfigurasi Jaringan Hybrid Jarlokat
Beberapa teknologi akses mengadopsi model infrastruktur hybrid (kombinasi) khususnya dengan jaringan fiber optik. Teknologi hybrid antara jarlokat dengan jarlokaf antara lain:
a.HFC (Hybrid Fiber Coaxial)
Teknologi berbasis TV-cable dengan menggunakan infrastruktur jaringan FO mulai sisi Headend sampai perangkat Fiber Node atau Distribution dan dikombinasikan dengan jaringan kabel koaksial sebagai jaringan distribusi ke pelanggan.
b.DLC (Digital Loop Carrier)
Teknologi OAN (Optical Access Network) yang dikombinasikan dengan jaringan kabel tembaga dari sisi remote untuk distribusi ke jaringan pelanggan.
c.MSOAN (Multi Service Optical Access Network)
Dapat dikatakan sebagai Next Generation DLC.
d.Remote DSLAM
Aplikasi teknologi xDSL dimana perangkat DSLAM berada pada cabinet outdoor atau cabinet indoor gedung. Perangkat remote DSLAM ada yang termasuk dalam kategori perangkat MSOAN.
2.10.1.Karakteristik dan Performansi Elektrikal Jarlokat
Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian untuk memperoleh kualitas pengiriman dan penerimaan sinyal transmisi yang baik pada jaringan telekomunikasi adalah dengan menjaga nilai karakteristik elektris jaringan kabel sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Nilai ini akan mencerminkan baik atau buruknya kondisi dari jaringan kabel tersebut. Apa saja parameter dari karakteristik elektris yang dibutuhkan tergantung dari sistem transmisi apa yang digunakan, analog atau digital dan berapa kecepatan bit yang diperlukan, serta dengan melihat teknologi apa yang akan dilalukan pada jaringan kabel tersebut.
2.10.2.Parameter Elektris
Parameter elektris Jarlokat meliputi :
a. Kontinuitas
b. Tahanan Isolasi
c. Redaman Saluran
d. Tahanan Loop
e. Impedansi
f. Crosstalk (FEXT dan NEXT)
g. Tahanan Screen
h. Grounding
i. S/N
2.10.2.1.Kontinuitas
Pengukuran kelurusan urat-urat kabel (urat a dan b) pada suatu pair kabel. Memastikan bahwa secara elektris urat-urat kabel dari ujung ke ujung lainnya tersambung baik, tidak terputus baik untuk kabel yang belum diinstalasi, dalam tahapan instalasi maupun sesudah instalasi. Pengukuran kontinuitas dilakukan dapat dilakukan dengan perangkat pair checker atau multimeter dengan metode open dan short antar urat a dan b.
Ada dua metode pengukuran, yaitu:
a. Menggunakan Multimeter (AVO Meter)
Apabila kita menggunakan Multimeter, maka kontinuitas kabel ditunjukkan dengan nilai tahanan tertentu atau dengan bunyi tone.
b. Menggunakan Pair Checker
Kontinuitas saluran dicek dengan mengirim nada berfrekuensi 550 ± 100 Hz yang dibangkitkan dan dipancarkan oleh alat ukur dan dipasangkan pada ujung kabel yang satu. Nada tersebut dapat didengar dengan headphone melalui alat penerima pada ujung kabel lainnya.
2.10.2.2.Tahanan Isolasi
Pengukuran nilai tahanan isolator kabel (pembungkus konduktor kabel) terhadap kebocoran listrik yang terjadi antara urat yang diukur dengan urat lainnya maupun antara urat yang diukur dengan pentanahan (grounding). Transmisi sinyal informasi yang melalui konduktor kabel secara umum tidak terpengaruh terhadap nilai tahanan isolasi Pengukuran tahanan isolasi dilakukan secara end-to-end jaringan. satuan/unit
tahanan isolasi adalah Ohm (Ω).
2.10.3.Redaman SaluranImpedansi karakteristik merupakan suatu nilai redaman yang pasti ada pada semua media transmisi, termasuk kabel tembaga. Sementara pada frekuensi kerja sistem, kabel tembaga menghasilkan redaman saluran yang besarnya berbeda-beda tergantung frekuensi kerjanya. Redaman pada kabel tembaga disebabkan karena konduktivitas konduktor yang tidak sempurna dan juga disebabkan oleh resistansi dielektrik yang berhingga (idealnya tak terhingga). Redaman ini merupakan kerugian daya yang terjadi dalam saluran. Definisi redaman ialah nilai logaritma dari daya sumber dibagi dengan daya yang di dapat dari pengukuran. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui kerugian daya yang terjadi dalam saluran.
Pengukuran kemampuan konduktor kabel jika dilalui sinyal informasi pada frekuensi sinyal tertentu. Dalam kalimat lain mengukur redaman saluran adalah mengukur besarnya redaman/loss sepanjang kabel. Berbeda pada pengukuran kontinuitas atau tahanan isolasi dimana kabel tidak dilewati sinyal informasi, maka pada pengukuran redaman saluran, kabel akan dilewatkan suatu sinyal informasi. Pengukuran redaman kabel dapat menggunakan perangkat oscilator (generator sinyal) dengan level meter atau menggunakan alat ukur xDSL. Satuan/unit redaman saluran adalah Decibell (dB).
Redaman saluran = 10 log (Po / Pi).....................(Persamaan 3.1)
Pengukuran kemampuan konduktor kabel jika dilalui sinyal informasi pada frekuensi sinyal tertentu. Dalam kalimat lain mengukur redaman saluran adalah mengukur besarnya redaman/loss sepanjang kabel. Berbeda pada pengukuran kontinuitas atau tahanan isolasi dimana kabel tidak dilewati sinyal informasi, maka pada pengukuran redaman saluran, kabel akan dilewatkan suatu sinyal informasi. Pengukuran redaman kabel dapat menggunakan perangkat oscilator (generator sinyal) dengan level meter atau menggunakan alat ukur xDSL. Satuan/unit redaman saluran adalah Decibel (dB).
Contoh: Apabila dikirimkan sinyal sebesar 100 mW, kemudian setelah melalui saluran tersebut ternyata hanya diterima sebesar 10 mW. Maka pada saluran terjadi redaman sebasar : a = log 10 = 10 log 0,1 = -10 dB 100 artinya redaman saluran itu 10 Db atau pada oscillator di set pada +20 dBm (10 log 100mW) dan terukur pada level meter +10 dBm, maka loss yang terjadi adalah selisih level kirim dengan daya terima adalah 10 dB. Pada beberapa alat ukur yang ada saat ini, pengukuran redaman dapat langsung menunjukkan hasil nilai ukurnya tanpa harus dilakukan perhitungan secara manual seperti di atas.
2.10.2.4.Tahanan Loop
Pengukuran tahanan loop adalah untuk mengetahui nilai resistansi/tahanan murni kabel. Pengukuran tahanan loop adalah murni nilai resistansi konduktor atau urat kabel.Pada pengukuran tahanan loop, kabel tidak dilewati suatu sinyal informasi. Tahanan loop kadang disebut juga dengan istilah tahanan DC (DC Resistance). Pengukuran tahanan loop dapat menggunakan perangkat multimeter. Satuan/unit tahanan loop adalah Ohm (Ω). R = 2.ρ . L.1000 / A..........................(Persamaan 3.2)
2.10.2.5.Impedansi
Dalam setiap media transmisi yang digunakan sebagai saluran sinyal informasi, baik itu informasi layanan ISDN yang terdapat sifat-sifat induktif, kapasitif dan redaman yang apabila pada saluran tersebut dilewatkan sinyal dengan frekuensi tertentu atau tegangan bolak-balik dengan besar tegangan tertentu. Karena masing-masing bersifat berbeda-beda dan saling mempengaruhi, maka akan terjadi impedansi saluran. Suatu jaringan kabel tembaga, mempunyai karakteristik impedansi saluran tertentu, yang biasa disebut dengan impedansi karakteristik. Impedansi karakteristik tergantung pada parameter-parameter induktif, kapasitif, redaman dan juga frekuensi yang dirumuskan dalam persamaan:
Zo = Ohm.........................(Persamaan 3.3)
2.10.2.6.Crosstalk
Croostalk adalah transfer energi elektromagnetik atau coupling dari satu saluran transmisi ke saluran transmisi lainnya yang letaknya berdekatan. Parameter ini dimaksudkan untuk mengetahui sampai seberapa jauh nilai ikut dengar suatu saluran bila saluran lain dalam jaringan kabel sedang berkomunikasi. Seperti halnya pada komunikasi telepon, kadang sering terdengar komunikasi dari pembicaraan lain atau suara dari pemancar radio, dan lainnya.
Ada dua jenis parameter cakap silang, yaitu :
a. FEXT (Far End Cros Talk), cakap silang ujung jauh.
b. NEXT (Near End Cross Talk), cakap silang ujung dekat.
Crosstalk = 10 log (Po / Pi) dB..........................(Persamaan 3.4)
Dalam pengukuran crosstalk, yang diukur adalah interferensi antar pasangan kabel (pair kabel) dalam quad yang sama, antar pair kabel dalam quad yang bersebelahan (the adjoining quad), dan antar pair kabel dalam quad yang terpisah oleh satu quad lainnya (the next adjoining quad). Crosstalk antara dua pair saluran akan berbeda dengan crosstalk dua pair saluran lainnya yang terdapat dalam suatu kumpulan pair saluran, dengan kata lain crosstalk antara pair nomor 10-11 akan berbeda dengan crosstalk antara pair nomor 20-21 pada suatu kabel berisi 100 pair. Demikian pula jika total jumlah pair kabel dalam kabel berbeda. Crosstalk yang terjadi pada kabel berisi 100 pair berbeda dengan crosstalk yang terjadi pada kabel berisi 200 pair atau 1200 pair. Untuk panjang kabel yang berbeda memberikan crosstalk yang berbeda baik NEXT dan FEXT. Hal ini disebabkan karena semakin panjang kabel maka posisi kabel secara keseluruhan akan berubah, dan perubahan posisi kabel akan mengakibatkan crosstalk yang berbeda, baik untuk pair dalam quad yang sama, quad yang bersebelahan, atau quad yang berseberangan terhadap pair referensi. Secara umum crosstalk yang akan terjadi akan semakin kecil dengan semakin jauhnya jarak antar pair yang dilalui layanan.
A.FEXT (Far End Crosstalk)
Istilah lainnya cakap silang jauh.
B.NEXT (Near End Crosstalk)
Istilah lainnya cakap silang dekat.
2.10.2.7.Tahanan Screen
Isolator jaringan kabel tembaga dibuat dari bahan alumunium foil, berupa pita alumunium yang dipasang secara tumpang tindih melilit sepanjang kabel, yang berfungsi sebagai pengaman urat-urat kabel dari gangguang tegangan luar (asing). Dalam penerapannya alumunium foil ini harus terhubung dengan baik ke grounding yang ada di setiap titik interkoneksi jaringan kabel, baik di MDF, RK dan DP. Setiap urat kabel harus mempunyai nilai tahanan screen terhadap grounding, maupun antar urat-urat kabel sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran besarnya resistansi screen (alumunium foil) di sepanjang kabel. Satuan/unit dari tahanan screen adalah Ohm (Ω).
2.10.2.8.Grounding
Semua perangkat aktif harus dihubungkan dengan grounding atau dikenal juga dengan istilah pentanahan, yang tujuannya adalah untuk membuang arus/tegangan petir dan arus/tegangan asing. Satuan/unit dari grounding adalah Ohm (Ω). Parameter ini sebagai standar parameter sistem telekomunikasi dan juga berlaku untuk jaringan. Parameter ini untuk mengetahui nilai tahanan tanah dari jaringan dan kelengkapannya (misalnya RK, KTB, DP dan lain-lain) yang tujuannya adalah untuk membuang arus/tegangan petir dan arus/tegangan asing.
2.10.2.9.S/N
Definisi dari Signal to Noise Ratio, perbandingan antara level sinyal informasi dengan noise yang mengganggunya. Satuan/unit dari S/N adalah dB. Makin besar nilai S/N maka makin baik performansi sistem yang ada. Perhitungan Signal to Noise Ratio akibat cakap silang self-FEXT adalah sebagai berikut :
S/N = S(f)/NF (f) = 1/(kxdxf2 ) ..........................(Persamaan 3.5)
BAB III
JARINGAN LOKAL AKSES FIBER OPTIK
(JARLOKAF)
3.1.Pengertian Jarlokaf
Teknologi Jaringan Lokal Akses Fiber (JARLOKAF) merupakan suatu teknologi penggunaan kabel serat optik sebagai media transmisi dalam sistem telekomunikasi. Salah satu jenisnya adalah jaringan Digital Loop Carrier (DLC), yaitu suatu sistem JARLOKAF dengan hubungan point to point tanpa melewati percabangan, hanya menggunakan komponen sambungan (splice) dan konektor. Teknologi ini memberikan keuntungan berupa peningkatan kemampuan banyak-nya / kapasitas satuan sambungan layanan. Casa Grande Estate sebagai salah satu barometer perumahan hunian modern di Yogyakarta dituntut untuk menyediakan layanan yang maju, cepat, mudah, dan unggul dalam segala bidang, yang salah satunya adalah adanya layanan telekomunikasi yang bekualitas tinggi. Teknologi yang umum digunakan adalah dengan menggunakan materi tembaga ( cooper ) yang dapat mengantarkan tranmisi sinyal berupa pulsa elektronik. Namun ini sangat terbatas dalam jumlah , kualitas serta jarak tempuhnya. Dengan demikian , jika dibandingkan dengan kabel coaxial maupun kabel tembaga , fiberoptik lebih banyak digunakan dalam saluran backbone.
Sistem yang digunakan dalam fiberoptik hamper sama dengan yang digunakan dalam system tembaga . perbedaannya adalah dalam penggunaan pulsa cahaya untuk menghantarkan informasi data ( teknologi tembaga menggunakan pulsa elektronik ) . Dalam system fiber optic , dikenal istilah transmitter , yaitu perangkat yang menjadi tampat awal penerimaan informasi data yang dikirimkan ke fiber optic. Informasi data berupa pulsa elektronik yang telah diterima oleh transmitter ini, kemudian diproses dan diterjemahkan menjadi informasi yang sama , tapi dalam bentuk pulsa cahaya . Transmitter biasanya menggunakan Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode ( ILD ) dalam proses penerjemahan ini .
Ada 3 jenis kabel fiber optik yang biasa digunakan yaitu : Single Mode ,Multimode dan Plastic Optical Fiber , yang berfungsi sebagai penunjuk cahaya dari ujung kabel ke ujung kabel lainnya . kemudian , dari transmitter berlanjut ke receiner , yang berfungsi untuk mengubah pelsa elektronik ke cahaya dan senaliknya , dalam bentuk Light Emiting Diode ataupun laser .
Kabel Fiber Optik Single Mode merupakan fiber glass tunggal yang dapat mengantarkan data sampia 10 mikrometer , memiliki satu jenis transmisi yang dapat mengantarkan data berkapasitas besar dengan kecepatan tinggi untuk jarak jauh , dan membutuhkan sumber cahaya dengan lebar spectrum yang lebih kecil . Kemampuan kabel jenis single mode dalam mengantarkan transmisi adalah 50 kali lebih cepat dari kabel jenis multimode , karena memeiliki core yang lebih kecil sehingga dapat menghilangkan setiap distorsi dan pulsa cahaya yang tumpah tindih . Kabel Fiber Optik Multimode terbuat dari fiber glass dengan diameter lebih besar, yaitu 50 – 100 mikrometer yang dapat mengantarkan data berkapasitas besar dengan kecepatan tinggi untuk jarak menengah . Apabila jarak yang ditempuh lebih dari 300 kaki,akan terjadi distorsi sinyal pada sisi penerima yang mengakibatkan transmisi data menjadi tidak akurat . Sedangkan Plastic Optical Fiber adalah kabel berbasis plastic terbaru yang menjamin tingkat performa yang sama dengan fiber glass dalam jarak pendek dengan biaya yang jauh lebih murah .Pemilihan teknologi JARLOKAF harus memperhatikan beberapa kriteria antara lain:
1. Jenis jasa dan kapasitas.
2. Kemudahan O&M.
3. Konfigurasi dan kehandalan sistem (reliability).
4. Kompatibilitas antarmuka dan sesuai standard (compatibility).
5. Tidak mudah usang dan dijamin produksinya.
6. Biaya efektif.
7. Tahapan pembangunan dan pengembangan dari teknologi JARLOKAF
BAB IV4.1.Pengertian Jarlokar
JARINGAN LOKAL AKSES RADIO
(JARLOKAR)
Jaringan Lokal Akses Radio (Jarlokar) Adalah menyediakan sambungan antara pelanggan dengan sentral local menggunakan teknologi radio secara total atau parsial, digunakan untuk mempercepat ketersediaan jaringan local sehingga dapat mempercepat layanan terutama pada area yang kompetitif. Diaplikasikan untuk memberikan layanan suatu area secara tetap, temporer atau emergensi yang terdapat sejumlah kombinasi penggantian jaringan kabel dengan menggunakan teknologi radio di tingkat feeder, distribusi maupun di drop wire. Namun JARLOKAR juga biasa disebut WLL ( WIRELESS LOCAL LOOP ).
Jaringan lokal nirkabel atau WLAN adalah suatu jaringan area lokal nirkabel yang menggunakan gelombang radio sebagai media tranmisinya: link terakhir yang digunakan adalah nirkabel, untuk memberi sebuah koneksi jaringan ke seluruh pengguna dalam area sekitar. Area dapat berjarak dari ruangan tunggal ke seluruh kampus. Tulang punggung jaringan biasanya menggunakan kable, dengan satu atau lebih titik akses jaringan menyambungkan pengguna nirkabel ke jaringan berkabel.
LAN nirkabel adalah suatu jaringan nirkabel yang menggunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara perangkat komputer dan akhirnya titik akses yang merupakan dasar dari transiver radio dua arah yang tipikalnya bekerja di bandwith 2,4 GHz (802.11b, 802.11g) atau 5 GHz (802.11a). Kebanyakan peralatan mempunyai kualifikasi Wi-Fi, IEEE 802.11b atau akomodasi IEEE 802.11g dan menawarkan beberapa level keamanan seperti WEP dan atau WPA.
4.2 Sejarah Dan Perkembangan Jarlokar
Dengan perkembangan teknologi maka penerima dapat menjadi lebih kecil dan sistem penerimaan lebih peka. Perkembangan ini memungkinkan penerima bergerak pada satu area terbatas. Dalam arti pesawat pelanggan tidak dapat bekerja di luar daerahnya karena tidak terdaftar / dikenali oleh sentral.
Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100 Kbps.Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, Federal Communication Commission (FCC) menetapkan pita Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 2400-2483.5 MHz dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi,sehingga pengembangan WLAN secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data.rate >1 Mbps.
4.3.Media Transmisi Radio
4.3.1.Pembagian band frekwensi
Pembagian band frekwensi dan karakteristik tiap band Penggunaan frekwensi radio sangat tergantung pada tujuan dan sifat aplikasinya. Yang menjadi pertimbangan adalah jarak, iklim, kondisi lapangan, kapasitas. Pembagian band frekwensi ini ditentukan dengan kesepakatan dalam ITU.
4.4.Sejarah dan Perkembangan GSM
Teknologi komunikasi selular sebenarnya sudah berkembang dan banyak digunakan pada awal tahun 1980-an, diantaranya sistem C-NET yang dikembangkan di Jerman dan Portugal oleh Siemens, sistem RC-2000 yang dikembangkan di Prancis, sistem NMT yang dikembangkan di Belanda dan Skandinavia oleh Ericsson, serta sistem TACS yang beroperasi di Inggris. Namun teknologinya yang masih analog membuat sistem yang digunakan bersifat regional sehingga sistem antara negara satu dengan yang lain tidak saling kompatibel dan menyebabkan mobilitas pengguna terbatas pada suatu area sistem teknologi tertentu saja (tidak bisa melakukan roaming antar negara).
Teknologi analog yang berkembang, semakin tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat Eropa yang semakin dinamis, maka untuk mengatasi keterbatasannya, negara-negara Eropa membentuk sebuah organisasi pada tahun 1982 yang bertujuan untuk menentukan standar-standar komunikasi selular yang dapat digunakan di semua Negara Eropa. Organisasi ini dinamakan Group Special Mobile (GSM). Organisasi ini memelopori munculnya teknologi digital selular yang kemudian dikenal dengan nama Global System for Mobile Communication atau GSM.
GSM muncul pada pertengahan 1991 dan akhirnya dijadikan standar telekomunikasi selular untuk seluruh Eropa oleh ETSI (European Telecomunication Standard Institute). Pengoperasian GSM secara komersil baru dapat dimulai pada awal kuartal terakhir 1992 karena GSM merupakan teknologi yang kompleks dan butuh pengkajian yang mendalam untuk bisa dijadikan standar. Pada September 1992, standar type approval untuk handphone disepakati dengan mempertimbangkan dan memasukkan puluhan item pengujian dalam memproduksi GSM. Pada awal pengoperasiannya, GSM telah mengantisipasi perkembangan jumlah penggunanya yang sangat pesat dan arah pelayanan per area yang tinggi, sehingga arah perkembangan teknologi GSM adalah DCS (Digital Cellular System) pada alokasi frekuensi 1800 Mhz. Dengan frekuensi tersebut, akan dicapai kapasitas pelanggan yang semakin besar per satuan sel.Pemakaian GSM kemudian meluas ke Asia dan Amerika, termasuk Indonesia. Indonesia awalnya menggunakan sistem telepon selular analog yang bernama AMPS (Advances Mobile Phone System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone). Namun dengan hadir dan dijadikannnya standar sistem komunikasi selular membuat sistem analog perlahan menghilang, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Eropa. Pengguna GSM pun semakin lama semakin bertambah. Pada akhir tahun 2005, pelanggan GSM di dunia telah mencapai 1,5 triliun pelanggan. Akhirnya GSM tumbuh dan berkembang sebagai sistem telekomunikasi seluler yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Dengan perkembangan teknologi maka penerima dapat menjadi lebih kecil dan sistem penerimaan lebih peka. Perkembangan ini memungkinkan penerima bergerak pada satu area terbatas. Dalam arti pesawat pelanggan tidak dapat bekerja di luar daerahnya karena tidak terdaftar / dikenali oleh sentral.
Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100 Kbps.Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, Federal Communication Commission (FCC) menetapkan pita Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 2400-2483.5 MHz dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi,sehingga pengembangan WLAN secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data.rate >1 Mbps.
4.3.Media Transmisi Radio
4.3.1.Pembagian band frekwensi
Pembagian band frekwensi dan karakteristik tiap band Penggunaan frekwensi radio sangat tergantung pada tujuan dan sifat aplikasinya. Yang menjadi pertimbangan adalah jarak, iklim, kondisi lapangan, kapasitas. Pembagian band frekwensi ini ditentukan dengan kesepakatan dalam ITU.
4.4.Sejarah dan Perkembangan GSM
Teknologi komunikasi selular sebenarnya sudah berkembang dan banyak digunakan pada awal tahun 1980-an, diantaranya sistem C-NET yang dikembangkan di Jerman dan Portugal oleh Siemens, sistem RC-2000 yang dikembangkan di Prancis, sistem NMT yang dikembangkan di Belanda dan Skandinavia oleh Ericsson, serta sistem TACS yang beroperasi di Inggris. Namun teknologinya yang masih analog membuat sistem yang digunakan bersifat regional sehingga sistem antara negara satu dengan yang lain tidak saling kompatibel dan menyebabkan mobilitas pengguna terbatas pada suatu area sistem teknologi tertentu saja (tidak bisa melakukan roaming antar negara).
Teknologi analog yang berkembang, semakin tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat Eropa yang semakin dinamis, maka untuk mengatasi keterbatasannya, negara-negara Eropa membentuk sebuah organisasi pada tahun 1982 yang bertujuan untuk menentukan standar-standar komunikasi selular yang dapat digunakan di semua Negara Eropa. Organisasi ini dinamakan Group Special Mobile (GSM). Organisasi ini memelopori munculnya teknologi digital selular yang kemudian dikenal dengan nama Global System for Mobile Communication atau GSM.
GSM muncul pada pertengahan 1991 dan akhirnya dijadikan standar telekomunikasi selular untuk seluruh Eropa oleh ETSI (European Telecomunication Standard Institute). Pengoperasian GSM secara komersil baru dapat dimulai pada awal kuartal terakhir 1992 karena GSM merupakan teknologi yang kompleks dan butuh pengkajian yang mendalam untuk bisa dijadikan standar. Pada September 1992, standar type approval untuk handphone disepakati dengan mempertimbangkan dan memasukkan puluhan item pengujian dalam memproduksi GSM. Pada awal pengoperasiannya, GSM telah mengantisipasi perkembangan jumlah penggunanya yang sangat pesat dan arah pelayanan per area yang tinggi, sehingga arah perkembangan teknologi GSM adalah DCS (Digital Cellular System) pada alokasi frekuensi 1800 Mhz. Dengan frekuensi tersebut, akan dicapai kapasitas pelanggan yang semakin besar per satuan sel.Pemakaian GSM kemudian meluas ke Asia dan Amerika, termasuk Indonesia. Indonesia awalnya menggunakan sistem telepon selular analog yang bernama AMPS (Advances Mobile Phone System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone). Namun dengan hadir dan dijadikannnya standar sistem komunikasi selular membuat sistem analog perlahan menghilang, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Eropa. Pengguna GSM pun semakin lama semakin bertambah. Pada akhir tahun 2005, pelanggan GSM di dunia telah mencapai 1,5 triliun pelanggan. Akhirnya GSM tumbuh dan berkembang sebagai sistem telekomunikasi seluler yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Prinsip Dasar Jaringan Lokal Akses Fiber Jaringan akses adalah jaringan yang menghubungkan sentral lokal dengan pelanggan. Sistem dari jaringan akses ini dapat merupakan hubungan fisik, fungsional maupun antarmuka. Dan Pada dasarnya Pengertian dari Jarlokaf adalah teknologi jaringan yang menggunakan fiber optik sebagai media transmisinya. Dimana sinyal yang ditransmisikan di dalam fiber optik adalah dalam bentuk cahaya (optik). Yang merambat didalam didalamnya dengan redaman yang kecil sehingga dapat menempuh jarak yang cukup jauh. Serta memiliki 3 komponen pokok yang membentuk Jarlokaf yaitu : Sumber Cahaya (Light Source), Serat Optik, dan Detektor Cahaya.
Jarlokar adalah Adalah menyediakan sambungan antara pelanggan dengan sentral local menggunakan teknologi radio secara total atau parsial, digunakan untuk mempercepat ketersediaan jaringan local sehingga dapat mempercepat layanan terutama pada area yang kompetitif. Diaplikasikan untuk memberikan layanan suatu area secara tetap, temporer atau emergensi yang terdapat sejumlah kombinasi penggantian jaringan kabel dengan menggunakan teknologi radio di tingkat feeder, distribusi maupun di drop wire.
5.2 Kelebihan penggunaan jarlokar dibanding jaringan fisik:
a. tidak mudah disadap
b. mempunyai fleksibilitas tinggi
c. dapat menjangkau daerah yang sulit dijangkau dengan jaringan fisik (kabel ) sehingga sangat cocok untuk daerah pedesaan (rural) atau daerah terpencil (remote)
d. instalasi cepat
5.3 Kelemahan penggunaan jarlokar
a. Gangguan propagasi radio (loss, interferensi, fading dll.
b. Dimungkinkan terjadi bloking karena adanya konsentrasi saluran yang (jumlah pelanggan > jumlah saluran).
c. Karena penggunaan teknik kompresi untuk layanan data bit rate renah.
d. Memerlukan catuan listrik pada perangkat pelanggan Jaringan Lokal Akses Tembaga, Jarlokar, Jarlokaf. Jaringan lokal akses tembaga ( JARLOKAT ) merupakan jaringan akses dari sentral ke pelanggan dengan menggunakan tembaga sebagai media aksesnya. Konfigurasi dasar jarlokat dimulai dari RPU( Rangka Pembagi Utama ) sampai dengan KTB ( Kotak Terminal Batas ) pada pesawat pelanggan.
5.2 DAFTAR PUSTAKA
- http://semut-speedy.blogspot.co.id/2010/07/.htm
- https://www.google.com/search?q=LOGO+ST3&source=lnms&tbm=isch& sa=X&ved=0ahUKEwiprJWZ-IbKAhVQSI4KHXpfDQIQ_AUIBygB&biw=1280&bih=591#imgrc=Hr4OPowbrsMzWM%3A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar